Pada tanggal 24 Juli 2026, RAMA mengadakan Monthly WAG Discussion bertema “Cerita di Balik Voice-Over Rumahan”. Materi kali ini dibawakan oleh Kak Ninda Savinna, seorang voice-over (VO) talent asal Batu yang telah menangani klien dari berbagai perusahaan swasta dan instansi pemerintah. Dalam sesi ini, Kak Ninda membagikan ilmu dan pengalamannya menjalani profesi sebagai VO talent, mulai dari suka hingga dukanya.
Sebelum membahas pengalaman Kak Ninda lebih jauh, penting untuk memahami dulu apa itu voice-over. Voice-over adalah proses membacakan naskah, skrip, atau narasi yang telah ditulis oleh klien untuk tujuan tertentu yang cenderung komersial, misalnya brand awareness, video profil perusahaan, iklan, interactive voice response (IVR), hingga public service announcement (PSA).^1 Pelaku dari profesi ini disebut sebagai voice-over talent.
Meski masyarakat umum lebih mengenal istilah dubber, perlu dicatat bahwa voice-over talent dan dubber adalah dua profesi yang berbeda. Dubbing berfokus pada penyulihan atau penggantian suara dari bahasa asli ke bahasa target untuk segmentasi pasar tertentu, yang direkam dengan metode broadcasting.
Kak Ninda mulai menekuni dunia voice-over berawal dari rasa jenuh setelah menikah dan melahirkan di masa pandemi tahun 2021. Saat itu, ia menemukan flyer open recruitment sebuah komunitas voice-over. Kak Ninda pun langsung mendaftar karena beliau menyukai suara dan senang berinteraksi dengan orang lain. Setelah bergabung, barulah ia mengetahui bahwa suara-suara yang selama ini didengarnya di iklan televisi disebut voice-over, bukan dubbing, seperti yang selama ini ia kira, sama seperti anggapan masyarakat pada umumnya.
Untuk mengubah potensi vokal mentah menjadi produk audio yang matang dan profesional, dibutuhkan beberapa perlengkapan pendukung berikut.
Keterbatasan fasilitas tidak menghalangi Kak Ninda untuk terus merekam. Ia rela merekam pada malam hari demi memastikan tidak ada suara lain yang ikut terekam. Tentu saja, tantangan yang dihadapi tidak mudah, mulai dari rasa kantuk yang mengganggu konsentrasi, hingga bayinya yang terbangun dan membuat suasana hati berubah. Meski begitu, konsistensi dalam merekam tetap dibutuhkan agar suara terdengar natural, walaupun prosesnya sendiri harus dilakukan secara bertahap.
Sebelum mencari klien, seorang voice-over talent perlu menyiapkan portofolio terlebih dahulu, berupa sampel suara yang diunggah ke media sosial. Sampel ini didapatkan dengan merekam suara berdasarkan skrip, dan videonya bisa memanfaatkan free footage. Semakin banyak sampel yang direkam dan diunggah, semakin kaya pula portofolio yang dimiliki. Setelah portofolio siap, barulah saatnya menawarkan jasa ke calon klien.
Klien yang membutuhkan jasa voice-over umumnya berasal dari divisi marketing perusahaan, divisi PDD (Publikasi, Dekorasi, dan Dokumentasi), atau bahkan pemilik usaha langsung. Ada tiga cara umum bagi voice-over talent untuk mendapatkan klien:


Demikian ilmu dan pengalaman yang dibagikan Kak Ninda pada Monthly WAG Discussion bulan ini. Sesi ini membuka wawasan bahwa di balik suara-suara yang kita dengar setiap hari, baik di video maupun fasilitas umum, ada para voice-over talent yang bekerja keras agar suaranya nyaman didengar.
[1] https://inavoice.com/blog_definisi-dubbing-dan-perbedaannya-dengan-voice-over-di-indonesia_31
[2]: Inavoice: https://inavoice.com/ | Suaraa.in: https://www.suaraain.com/ | Voice Institute Indonesia: https://voiceinstituteindonesia.com/